Mutiara Kata Hari Ini

“Hari yang paling disia-siakan adalah hari saat kita tidak tertawa” Sebastian Roch Nicolas Chamfort.
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

22 Agustus 2009

Tertawalah Sobat

“hari yang paling disia-siakan adalah hari saat kita tidak tertawa” Sebastian Roch Nicolas Chamfort.

Hidup adalah masalah serius. Bahkan pepatah latin mengatakan “Vita et Militia” (hidup adalah perjuangan) Anda setuju dengan pendapat atau papatah ini? Saya yakin anda pasti setuju. Dan kalupun tidak silahkan anda membaca dikoran atau menonton berita pagi atau sore di Televisi. Kita akan banyak menemukan begitu banyak betapa hidup tidak dapat dinikmati oleh mereka korban bencana alam, korban bom, tragedy kemanusiaan serta tindakan mereka yang berhati beku yang tega menyakiti sesamanya.
Kita melihat hiruk pikuk jalanan dan seriusnya orang-orang mengerjakan tugasnya. Yang malah membuat orang itu semakin tertekan dalam melaksanakan tugasnya. Sementara dilain dunia semakin banyak bukti yang memperlihatkan bahwa tawa sering kali membuat perubahan besar dalam pola laku seseorang. Tawa dapat melepaskan endorfin (zat yang keluar dari otak yang dapat melegakan perasaan, dan meberikan rasa nyaman pada tubuh kita) dalam tubuh kita dan meningkatkan perasaan sejahtera. Banyak ilmuwan kesehatan telah menemukan bahwa terapi tawa merupakan cara efektif untuk membantu korban penganiayaan dan penyia-nyiaan.

Kita mungkin bukan termasuk makhluk yang dapat tertawa ataupun dapat bercanda dengan nyaman, tetapi mendapatkan keuntungan dari rasa humor kita tidak harus menjadi pelawak ataupun comedian. Menonton dan melihat sesuatu dalam keseharian dapat membantu kita menumbuhkan tawa. “semenit tawa dapat menghalau berjam-jam penderitaan”

19 Agustus 2009

Berpikirlah sebelum Berkomitmen

“seseorang tidak dapat mengurusi terlalu banyak masalah; seperti labu didalam air, labu yang satu akan muncul tatkala anda menahan labu yang lainnya” Pepatah Tiongkok.

Dulu saat saya tiba di Surabaya, saya sungguh dibelenggu rasa sepi yang mendalam. Kegiatanku paling hanya bercengkrama dengan tukang kopi di Jalan Kepanjen. Atau sesekali menghabiskan malam dengan Okta, teman cangkruk . Saat sepi mendera seperti saya ingin aktif dalam suatu organisasi entah apa bentuknya.

Waktu berjalan begitu cepat melesat, saya bergabung dengan banyak Organisasi baik yang membutuhkan komitmen tinggi maupun yang hanya sekedar menyemplungkan diri, hingga suatu ketika sulit melepaskan diri dari apa yang telah meringkus kebebasanku. Semua itu memang positif yang bisa mengarahkan dan mendewasakan saya baik dalam hidup bersama maupun secara pribadi. Tidak sadar hantu kesibukan seolah menjerat saya begitu kuat.

Ya… kesibukan: suatu penyakit di era sekarang ini, yang mengubah orang-orang baik hati menjadi penggerutu. Menjadi setengah manusia yang terus berlomba dari suatu kewajiban ke kewajiban yang lainnya. Mencurahkan diri kita sepenuhnya ditempat yang positif tetapi juga memberi kita kekacauan, yang akhirnya kita tidak dapat berpikir jernih apa yang sedang kita lakukan. Kita terbawa arus kesibukan dan rutinitas yang membosankan dan tidak berjiwa.

Saat tersadar saya berpikir, kita bahkan tidak dapat berbuat suatu perubahan yang positif dalam dunia, dan lingkungan kita jika kita kelelahan, jauh dari orang lain, dan terus menerus berada dalam suasana yang hiruk pikuk. Saya mungkin perlu belajar untuk kapan mengatakan “ya” dan kapan mengatakan “tidak”. Sembari terus terus menyadari bahwa apa yang kita lakukan sampai mati sekalipun bisa saja menjadi sia-sia tanpa menghasikan nilai yang sebenarnya. Tinggalkan warisan yang abadi dengan menyadari sepenuhnya apa yang benar-benar dapat kita lakukan dan berkomitmenlah untuk hal-hal yang sungguh dapat kita kerjakan.

Sampai akhir-akhir ini saya hampir saja menolak suatu tantangan yang diberikan kepada saya. Tantangan. iya... karena saya tidak yakin dengan prospek kedepannya seperti apa. Belum lagi lingkungan yang kurang mendukung. dilain tempat saya bisa berhasil mungkin karena didukung oleh rekan-rekan yang kompeten sedang dalam situasi baru bisa saja tantangan yang diberikan serasa berat. Sampai saya dikatakan koq cuman mengatakan iya saja susahnya setengah mati. Butuh 2 hari. itu waktu yang diperlukan bagi saya untuk mengatakan bersedia. Itu dalam hal yang kecil belum lagi yang membutuhkan komitmen yang lebih besar. Semoga bagi saya ini merupakan pembelajaran terus-menerus.

08 Juli 2009

Online VS tatap Muka

Demam FB memang betul-betul merajalela... Saya yang dulu begitu tekun dengan blog sampai tergiur dan beralih ke FB. Yang tidak banyak membutuhkan waktu yang panjang dan materi untuk ditulis dalam sebuah status. Cukup menulis satu kata dan orang lain akan segera merespon dengan komentar entah sekedar atau numpang promosi diri. Tetapi kenyataannya FB menjadi sangat populer tidak hanya di kalangan muda tetapi juga bagi orang tua.

Apa hubungannya sama coretan saya kali ini? Saat ini teman yang ada di FB saya ada 441 orang. itu teman dunia maya saya yang tentu tidak semua sempat saya sapa atau bertemu muka dengan saya. Sementara teman di Phonebook saya ada sekitar 200 orang. mereka-mereka yang sering saya telepon atau menghubungi saya suatu ketika. Sementara sahabat yang ikut Folloe di blog saya ada sekitar 215 orang, mereka yang setia menunggu tulisan dari saya entah dibaca atau tidak nyatanya mereka sudah mengikuti saya. Sementara orang-orang yang saya kenal setiap hari, berjumpa dan menjadi sahabat saya saya perkirakan ada 150 yang aktif. yang masih sering bertegur sapa denga saya setiap hari dalam pergaulan saya. Ini lebih sedikit dari semuanya.

Lalu saya mulai bertanya, ada apa yang salah. Dan berdasarkan hasil penelusuran saya dan membaca disana-sini jawabannya; salah satu alasan mengapa perjumpaan di internet begitu populer adalah karena perjumpaan ini tidak dalam waktu yang sebenarnya ---kita tidak akan terganggu oleh seorang yang menatap kita, dan kita dapat menulis lagi jawaban-jawaban kita hingga jawaban itu terdengar sanagat menyenangkan dan menarik orang lain untuk semakin dekat dengan kita. Tidak demikian hanya dengan dunia nyata. Dengan adanya seseorang yang menatap kita, kita tidak akan menutup mata untuk berpikir, menekuk wajah kita mencari sebuah jawaban cerdas atau berpikir mencari sepotong kebijaksanaan yang sempurna.

Bagi banyak orang percakapan lewat telepon akan lebih mudah dilakukan daripada percakapan dengan tatap muka secara langsung. namun banyak orang yang memulai hubungan lewat internet akan berkata; "semuanya tampak indah sampai akhirnya kita bertemu langsung; saat itu aku tahu diantara kita tidak ada Chemistry.

Ya... dalam perjumpaan kita dengan orang lain perlu adanya chemistry, yang tidak dibutuhkan dalam perjumpaan lewat dunia maya. Saat kita bertatap muka, kita di bombardir dengan masukan-masukan indra, kita dapat melihat, mendengar mersakan dan membaui orang lain. Semuanya ini adalah elemen untuk Chemistry yang sebenarnya dan saat chemistry itu ada, kita akan dapat mengetahuinya begitu saja. Percakapan dalam perjumpaan secara nyata atau dalam istilah blogernya Kopdar akan membawa seseorangpada kisah yang terkenang panjang. Sementara percakapan tanpa chemistry tidak akan membawa kita pada kisah yang abadi. Semakin besar chemistrynya suatu percakapan dalam perjumpaan dengan orang lain, pergaulan dan persahabatan kita akan mudah mengalir.

24 Juni 2009

Petani Tua, Kuda dan Anak Laki-laki

Johanes Lim, dalam bukunya No Pain No Gain mengishkan tentang Seorang petani disuatu desa dengan seekor kuda dan seorang anak laki-lakinya. Pada suatu siang, kuda si Petani hilang ditengah hutan. Namun demikian ia berusaha tabah dan dan mencoba melupakan kejadian itu. Cemoohan dan sindiran dari tetangga-tetangganya mengiris-iris perasaannya. Mereka tidak mau berempati.

Syukurlah selang beberapa hari kemudian Kuda itu kembali dengan membawa seekor kuda liar. Si petani sangat kegirangan. Tetapi kuda liar itu tidak gampang dijinakan untuk menjadi kuda tunggangan, si petani menugaskan anaknya agar untk menjinakan kuda liar. Akan tetapi kuda liar itu masih sangat sulit untuk dijinakan, hingga anak laki-laki petani mengalami musibah. Dia terjatuh dan terinjak kuda hingga mengalami cedera parah dikakinya dan harus istirahat total agar tidak menjadi cacat seumur hidup.

Si Petani kembali sedih dan tetangganya seolah paduan suara kembali "bernyanyi" mencemooh petani malang. Namun Petani tetap optimis, "harii baik atau hari buruk bukan dia yang menenukan".

My Father


Hingga suatu hari, Kebetulan negara sedang dalam keadaan kacau, pemerintah membutuhkan banyak anak muda untuk mengikuti wajib militer.Semua orang tua yang anaknya direkrut tidak pernah tahu kapan anaknya akan kembali. sesampainya di rumah Petani para pejabat militer mendapatkan Anak si petani sedang terbaring dengan luka parah dikaki akibat jatu dari tunggangan kuda liar beberapa hari yang lalu. Si Anak petani pun luput dari perekrutan Wajib Militer.Hari baik atau hari buruk bukan kita yang tahu, kini para tetangga telah larut dalam kesedihan dan tangisan mendalam anak mereka apakah bisa kembali atau tidak.

seorang bijak pernah berkata; "dalam situasi yang serba tidak menentusatu hal yang tidak dapat berubah tetapi justru mampu mengubah dunia disekeliling kita. yaitu; Senyuman, perkataan dan ungkapan syukur.

Dalam blog ini saya telah menulis banyak juga tentang bersyukur. Ungkapan syukur menunjukan kepada kita kerendahan hati yang mulia untuk menerima apa yang patut kita terima.Bahkan rasa Syukur sendiri merupakan parameter spiritualitas seseorang dalam relasi dengan sang Pencipta. Kita mungkin pernah mendengar ungkapan berbeda dari dua orang anak manusia yang berlainan tipe dipagi hari saat dia bagun tidur. Orang yang ang pertama mengatakan, "terima kasih Tuhan untuk pagi yang indah" sementara yang lainya berkata " Aduh... Sudah pagi lagi..."

Beberapa artikel atau tulisan yang saya baca menunjukan seorang pekerja yang senantiasa bersyukur atas apa yang dia kerjakan dan ia terima lebih tahan terhadap penyakit stress dari pada mereka yang suka menggerutu. Ya barangkali kata-kata dalam buku Journey into healing karangan Deepak Chopra : "health is not just the absence of desease, but the inner joyfulness that happeb all the time" dapat menjadi rujukan bagaimana kita bersikap.

Apa yang diterima hari ini tidak menjadi alasan untuk tidak mengucapkan syukur, asal tidak mengatakan syukur dengan penekanan "Sssyukurrr!!!!" ini jelas beda artinya dengan ungkapan syukur secara tulus yang keluar dari hati murni. termasuk beryukur akan apa yang tidak dapat kita terima yang semestinya terima juga merupakan suatu sikap yang mulia. Petani diatas telah mengajarkan kita bagaimana bersikap. Dibalik ucapan syukur terkandung optimisme yang besar yang bisa merubah lingkungan, terutama dirinya. Optimisme yang menyadari masalah tetapi mengetahui pemecahannya, mengenal kesulitan tetapi dapat mengatasinya, melihat yang negatif tetapi menekankan yang positif, menghadapi yang terburuk namun mengharapkan yang terbaik, punya alasan untuk menggerutu namun tetap tersenyum.

Selamat beryukur!!!!!!!!!!!

13 Juni 2009

Keindahan, Hadiah dari Tuhan

Dalam suatu perjalanan dari Pematang Siantar menuju Danau Toba, melewati rimbunan hutan pinus. Teman semobil bertanya kepada saya. "Koq dari tadi pandangannya menerawang kemana-mana? bukankah anda tidak bersama kami disini, tertawa dan bersenda gurau?" lalu saya berkata, "Alam ini terlalu indah untuk dlewatkan aku mau menikmatinya, betapa agung karya-Nya." Serempak mereka berseru "huuuuu..." mirip "paduan" lebah.

Dilain kesempatan saat duduk di kafe atau tempat umum lainnya, saya cenderung mencari posisi strategis. anda tau sendiri lah apa tujuannya kalau bukan para wanita cantik yang lewat didepan saya sehingga bisa leluasa memandang dan "menikmati" keindahan itu.
Sementara dijalanan kota Surabaya saat siang panas menyengat dan hiruk pikuk serta kemacetan disiang hari, saya masih dapat menikmati waarna-warni bunga yang seolah kontras dengan keadaan jalan yang hiruk pikuk.

Bunga-bunga ini secara emosional telah menyadarkan saya bahwa keindahan bahkan bisa ditemukan dihari terik, panas menyengat, hiruk pikuk dan masa-masa tegang sekalipun. Kini saat saya melihat sekeliling setelah melihat diri dalam sekali, selalu nampak indah. dan Tuhan telah meletakan sesuatu yang indah "dijalan" untuk selalu mencerahkan hati.

01 Juni 2009

Dua Cangkir Kopi = Beda Rasa

Ini Kisah yang selalu membangkitkan saya dari keterpurukan dan masalah yang mengahantui saya.

Ayahku seorang petani tulen yang setiap hari mencangkul di ladang atau disawah, sementara ibuku mengurusi rumah dan kadang membantu ayah keladang. Tidak pernah terpikirkan olehku mereka memiliki pola pikir yang luar biasa.

Ini kisahnya:

Dikelas 2 SMA setelah liburan Natal, saya sebenarnya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah. Alasan saya simpel; saya tidak mau melihat kedua orang tua saya terlalu lelah demi kami anak-anaknya, saya gak mau peluh mereka mengalirkan darah. Pikirku dengan idealisme kerdilku mereka dengan mudah mau mengikuti mauku. Ternyata tidak.

Hari itu dengan sifat kebapakan, beliau mengajak saya duduk di kursi yang terbuat dari cacahan bambu di belakang rumahku. Dan dengan tenang, beliau berkata.
“Nus. Apakah masalahmu sangat berat?”
aku menjawab; “pak. Saya tidak mau bapak-mama bekerja terlalu keras demi kami, saya kasihan bapak dan mama.”
“Apakah dengan mengorbankan sekolahmu, bapak dan mama tidak usah lagi kesawah atau ke ladang, mau kamu mengembalikan semua uang ayah-ibu yang dikeluarkan untuk menyekolahkanmu? atau kah kamu juga tidak akan lelah dan merindukan bangku sekolah, teman-teman dan cita-citamu?” Tanya ayahku.

Aku hanya diam.
“Sudah minum?” (biasanya ibu membuatkan secangkir susu kedelai)
“belum.” Jawabku.
“tolong ambilkan cangkir didapur, kita buat minum dulu.” Pinta ayahku.
Dengan segera kuambil cangkir kecil dan sebuah yang besar yang biasa dipakai oleh ayahku.

Dengan air dari termos dia lalu membuatkan dua cangkir kopi, satu digelas berisi setengah liter yag satunya kira-kira 100 ml.

“Ini. Dua-duanya harus kamu minum.” Pinta ayahku.
“koq dua-duanya? Apa tidak enak kopinya atau gelasnya masih kotor?” tanyaku heran.
“sudah… kamu minum saja. Tidak ada apa-apa” Ayaku meyakinkanku.

Setelah agak lama saya akhirnya meminum dari cangkir yang kecil terlebih dahulu.
“Duh Pahit!!!” gerutuku.
“maaf ayah lupa memberikan gula… yang ini saja” sambil menyodorkan cangkir besar.
Saya lalu meneguk dari cangkir besar.

“Bagaimana?” Tanya ayahku melihat rait aneh di wajahku.
“ayah koq aneh, satunya pahit yang satunya malah tak berasa. Maksudnya apa?” tanyaku.

“Ya… itulah hidup. Saat ini hidup kita mungkin sedang berada dalam cangkir yang kecil. Masalah kecil bisa sangat membuat diri kita takut, khawatir dan putus asa. Kelak saat kita dapat membesarkan pola pikir kita, masalah akan semakin kecil. Kopi tadi takarannya sama bedanya hanya pada wadah dan air yang ada dalam wadah tersebut.”

“Buatlah dirimu lebih matang, lebih berkembang jangan hanya seperti ayah dan ibu.”

Kisah ini yang terus-menerus hadir disaat saya susah dan tidak berpengharapan. Selain Berdoa usaha kita adalah mengembangkan diri kita, menghadapi masalah dan memecahkannya…

Saya belum mencapai cita-cita ideal saya tetapi saya sudah bisa lebih berguna bagi keluarga saya, ayah-ibu saya dan kakak-adik saya kelak orang lain itu cita-cita saya.

17 Mei 2009

Rantai Kebaikan

Cerita ini kiriman dari lapanpuluhan@ yahoogroups. dan bagi saya sangat menyentuh hati maupun perasaan saya sebagai manusia, makhluk sosial yang hidup dan berada ditengah orang yang bahkan kita tidak tahu siap orang itu. baiklah saya postigkan di blog saya untuk menjadi bahan Renungan hari Minggu ini. semoga bermanfaat untuk kita.


Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.

Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan.

Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson ."



Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu.. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka.

Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St.. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu. Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun ju mlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya.

Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu.Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.

Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, "Dan ingatlah kepada saya."

Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.

Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.

Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hamper delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan....

Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $ 100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi... Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu. Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu:

"Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya.. Saya juga pernah ditolong orang. seorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.'"

Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi.
Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan ke lahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.

Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu,Bryan Anderson !"

Ada pepatah lama yang berkata, "Berilah maka engkau diberi." Hari ini saya mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Jangan hapus kisah ini, jangan biarkan saja! Kirimkan kepada teman-teman anda! Teman baik itu seperti bintang-bintang di langit. Anda tidak selalu dapat melihatnya, namun anda tahu mereka selalu ada..
Tuhan memberkati niat baik kita!

05 Mei 2009

Hasrat Untuk Berubah

Kita mungkin pernah mendengar kata-kata dibawah ini:


Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,

Aku bermimpi ingin mengubah dunia,

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,

Kudapati bahwa dunia tak kunjung berubah.


Maka cita-cita itu pun agak kupersempit,

Lalu kuputuskan hanya untuk mengubah negeriku.

Namun, tampaknya hasrat itu pun tiada hasil.


Tatkala usiaku makin senja,

Dengan semangatku yang masih tersisa,

Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,

Orang-orang yang paling dekat denganku.


Sayangnya, mereka pun tak mau diubah.


Kini, sementara aku berbaring menuju ajal menjelang,

Tiba-tiba kusadari :

Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,

Maka dengan menjadikan diriku sebagai teladan,

Mungkin aku bisa mengubah keluargaku.

Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,

Bisa jadi aku pun bisa memperbaiki negeriku.

Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa mengubah dunia.



*Tulisan disebuah makam di Westminster Abbey, Inggris,1100 Masehi.

(kiriman setyawan_abe@yahoo.com)

29 April 2009

Apakah Aku Bisa Memaafkan?

Hari ini pingin posting mengenai memaafkan. kenapa memaafkan? Hidup ditengah lingkungan yang beraneka ragam sifat orang menuntut kita untuk pandai-pandai membawa diri, mengontrol emosi dan yang terpenting memahami karakter orang lain yang ada disekitar kita.

Saya punya pengalaman pribadi bagaimana disakiti teman sendiri, bagaimana difitnah sahabat sendiri. dan resoki yang harus saya tanggung pun sangat besar. Kelas 2 SMA mungkin adalah masa yang sangat "high" saya katakan demikian karena masa-masa itu kita sudah terlepas dari masa adaptasi dikelas I dan belum meerasakan masa penuh ketegangan di kelas 3. Saya di laporkan menjadi biang keributan oleh beberapa siswi yang kebetulan dekat dengan Guru Biologiku. dan saya tidak diijinkan mengikuti pelajaran biologi sejak saat itu. "gila apa? maslahnya apa?" tanyaku pada sang guru yang memandangku dengan sinis. "kamu sudah keterlaluan dan tidak menghargai saya sebagai gurumu dan tidak mengikuti pelajaran yang saya beri adalah hukuman yang setimpal." permohonan dalam bentuk apapun tidak pernah dikabulkan. yang ada hanyalah saya diminta untuk refleksi hingga bisa membawa perubahan sikap.

Disatu kesempatan lagi guru Piket dan seorang guru Sejarah benci mati kepada saya yang sok disiplin. maksudnya datang ya pas kurang beberapa detik sebelum jam masuk selesai. Disatu pihak saya memang menyadari saya ketrelaluan telah merusak tatanan dalam ruang kelas dengan menjadi biang dari kegaduhan yang dilakukan banyak orang dan bukan saya sendiri. Dilain pihak saya tidak diberi ampun atas "dosa" yang saya lakukan. Apakah ini setimpal? Ini yang akhirnya terus membuncah dalam benak saya. Apakah orang yang bersalah patut tetap distempel salah. Jadi ingat lagu Ebiet G Ade.

Hingga suatu malam saya memberanikan diri menemuinya dirumah guru biologiku untuk terakhir kalinya saya memohon maaf. saya tidak mengancam akan memperkarakan dia karena apapun secara Hak Asasi Manusia saya benar. lagipula yang melakuakan kegaduhan bukan hanya saya sendiri, banyak orang. malam itu saya diberi sekantong maaf. yang entah akan saya berikan kepada siapa kelak.

Hari Minggu kemaren saya membaca Parodi di Kompas tulisannya Samuel Mulia mengenai Chaves dan Obama yang bersalaman. ada yang mengatakan Obama rendah hati ada yang mengatakan Chaves jauh lebih mulia sikapnya. memaafkan musuh negara masing-masing. Kita tahu sejak dulu Chaves sangat membenci Amerika. Tapi kenapa justru Chaves yang meminta maaf? saya tidak menulis tentang itu, tetatpi bagaimana mereka bisa saling memaafkan dengan sepenuh hati dan bukan lip service belaka itu yang terpenting. Chaves melakukan aksi yang menurut saya sangat mulia dengan datang kepada Obama dan bersalaman, sementara Obama dalam pidatonya memuji sikap Chaves. Itu hanya isi hati mereka yang tahu.

Saya sendiri sebenarnya sulit melakukan hal ini. Tetapi saya ambil itu sebagai inspirasi untuk kita bisa bersikap damai dengan yang lain. toh pemimpin negara kita juga sering melakukan hal yang sama. masih ingat Megawati tidak pernah mau datang jika diundang untuk bertemu atau hair dalam acara kenegaraan yang dihadiri SBY. Ada apa. Rivalitas kadang bisa membutakan nurani kita untuk berpikir jernih memajukan masyarakat umum.



Dan diakhir tulisan ini saya berikan angket. silahkan diisi lewat Box komentar dibawah. tulis jawaban 1. apa, 2. Apa, 3 Apa dan 4, apa dan mengapa. Kita sama-sama mengisinya nanti mulai dengan saya.

1. Anda kalau jadi presiden sebuah negara yang dibenci dan disebut musuh oleh Amerika, apa yang anda lakukan?
a. Saya akan memaafkan dan melupakan kalau negara AS itu pernah ada.
b. iya.. saya akan memaafkan dan melupakan kalau lagi tidur saja... hehehehe
c. ya.. saya akan memaafkan dan melupakan. itu kan urusan AS saya mah kalau dimusihin hayu... jadi teman juga hayu... take eazylah... man.!
d. ya...Engak...ya...enggak... Tunggu suara tokek aja deh...

2. Anda mengganggap seorang menjadi musuh biasanya karena apa?
a. Senang aja...cari musuh. biar hidup lebih hidup...
b. Iri
c. Sakit hati
d. ikut-ikutan teman se-geng. takut dimusuhi
e. Sepatutnya dimusuhilah yao...
f. gak mau menuruti kemauan saya... ngek!

3. Saat ini saya menyuruh anda untuk memaafkan orang yang menyakitimu bertahun-tehun. bersediakah anda?
a. eng.... gimana ya.. eh..ah...eh...(sambil garuk-garuk kepala yang gak gatal atau paling ketombean emang...)
b. eeee oik...eya... hoaks...(iiiihhhhh.....ngeri amat seh lu...!!)
c. Ogah!!!! (dengan suara lantang) enak aja nyuruh-nyuruh orang....
d. Eh... gimana ya... bingung aku, pusing aku... (hari gini...!!!) pertanyaanya jangan susah-susah dunk...
e. hidupkan harus memaafkan... iya harus lah... (so sweet.....)

4. Mana yang paling sulit dari beberapa aktifitas dibawah ini yang paling sulit anda lakukan? mengapa. jawab abjad apa dan mengapa... ditulis dikertas dulu entar dimasukan kesini.
a. memaafkan kesalahan orang siapapun itu.
b. mengaku saya salah.
c. mengatakan kau suka kamu ke pasangan... (bercanda atau serius terserah elu deh...)
d. merendahkan diri..
e. beridri dipinggir jalan sambil menunggu taksi atau sopir, padahal anda orang kaya atau kondang banget.
f. menjadi diri sendiri
g. membungkam mulut sendiri agar tidak memaki, mencela dan menjerit didepan umum
h. mengurangi sifat egois
i. mengontrol emosi
j. bukan salah satu jawaban diatas.

(angket dari Samuel Mulia kolumnis di Parodi Kompas. diedit lagi oleh Marianus)

30 Maret 2009

10 Perbedaan antara yang Menang dan yang Kalah

Hari ini saya ingin menulis mengenai 10 perbedaan atara orang yang Menang dan yang Kalah. Sudah lam sebenarnya saya menyimpan catatan ini saat saya mengikuti pelatihan pengembangan Kepribadian yang di berikan oleh dr. Ardiansyah Arifin, Phd tahun 2004 silam di vila Sariwani Bromo. Dan hari ini saya menyempatkan diri menulis dan mensharekan kepada teman-teman bloger dan pembaca.

1.Seseorang yang menag melakukan kekeliruan lalu berkata: “saya keliru”. Dan seseoerangyang kalah berkata: “itu bukan salah saya.”

2.Seseorang yang menang mmpercayai keberuntungannya karena menang sekalipun itu bukan keberuntungan. Sesorang yang kalah mempercayai kesialan karena kalah, tetapi itu bukan keberuntungan.

3.Seseorang yang menang bekerja lebih keras dbanding sesorang yang kalah tetapi toh mempunyai lebih banyak waktu. Seseorang yang kalah selalu “terlalu sibuk,” terlalu sibuk merenungi kegagalan.

4.Seseorang yang menag memecahkan masalah, seseorang kalah menghindari masalah.

5.Seseorang menang menunjukan penyesalan dengan memperbaiki. Seorang yang kalah mengatakan ia menyesal tetapi ia melakukan hal yang sama dilain waktu.

6.Seseorang yang menang tahu apa yang harus diperjuangkan dan apa yang harus dikompromikan. Seseorang yang kalah berkompromi untuk sesuatu yang seharusnya tidak dikompromikan dan berjuang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak punya nilai untuk diperjuangkan. Setiap hari merupakan perjuangan hidup dan sangat penting untuk memperjuangkan hal-hal yang benar dan tidak menyia-nyiakan waktu kita untuk hal-hal yang sepele.

7.Seseorang yang menang berkata: “saya baik, tetapi tidak sebaik seperti seharusnya. Seseorang yang kalah berkata “yah… saya tidak sejelek seperti ekbanyakan orang.” Sesorang yang menang menatap lurus arah keman ia tuju. Sesorang yang kalah melihat kebawah kepada mereka yang belum berhasil mencapai posisi yang ia temapati.

8.Seseorang yang menag menghargai orang yang ada diatasnya dan mencoba belajar dari mereka. Sesorang yang kalah marah kepada merekadiatasnya dan mencoba mencari-cari kesalahannya.

9.Sesorang yang menangbertanggung jawab tidak hanya terhadap pekerjaannya. Seseorang yang kalah berkata: “pekerjaan saya sudah selesai, saya hanya sebatas ini saja.”

10.Sesorang yang menang berkata: seharusnya ada cara yang lebih baik untuk melakukannya. Seseorang yang kalah berkata: “mengapa mengubahnya. Itu cara yang selalu dilakukan selama ini. Biasanya seperti ini.”

Harus Belajar

Jam 8 tadi kantor saya dapat telepon dari IEU.. teman saya Pak. Marsudi yang menerima telepon buru-buru memberikannya kepada saya. Pikir saya telepon ini ditujukan kepada saya. Tidak tahunya dia berbicara dalam bahasa inggris. sementara saya bingung karena say sendiri tidak fasih bahkan kalau mau dikata saya tidak bisa berbahasa inggris dengan baik, apalgi leat telepon. mending bertemu langsung saya bisa sedikit menggunakan bahasa tarzan dibantu dengan gerak tubuh. dasar...!!!

Sebenarnya tujuannya bukan hendak bebicara dengan saya. dia mau berbicara dengan boss saya sendiri. Setelah minta konfirmasi dengan atasan jadilah saya yang menrima telepon ini. ingin mencari yang lebih fasih dalam bahasa inggris tapi rasanya disini sama saja. dengan segala kemampuan saya berusaha untuk mencerna apa yang ingin dia lakukan. Sebenarnya dia bersama seorang profesor atasannya ingin memperkenalkan diri dan IEU di tempat kerja saya. dan juga bertanya banyak tentang tempat kerja saya. Dia memanggil saya dengan mr. Marry. nama baru... hehehhee

dan bagi saya ini pelajaran yang sangat berharga dimana saya harus mengembangkan diri saya. dengan belajar lebih banyak. karena sebenarnya bukan hanya kali ini saja saya bertemu dengan bule-bule. sering dalam suatu pertemuan atau perjalan wisata saya bertemu dengan mereka. dan kesimpulan terakhir kemapuan bahasa inggris saya harus ditingkatkan. HARUS!

27 Maret 2009

10 Kiat Menjadi Pribadi yang Disukai

1.Royal dalam memberi pujian
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkanrasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau anda selalu siap membagikan air segar untuk orang lain. Anda berada pada posisi yang strategis untuk disukai orang lain. Bukalah mata lebar-lebar untuk melihat kebaikan-kebaikan pada diri orang lain. Lalu pujilah dengan setulus hati.

2.Buatlah orang lain merasa dirinya penting.
Tunjukan dengan sikap dan ucapan bahwa anda menganggap orang lain itu penting. Misalnya jangan membiarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakan maaf dan tepati janji. Serta bersikaplah ramah.

3.Jadilah Pendengar yang baik
Kalau bicara itu perak dan diam itu emas. Maka pendengar yang baik lebih mulia dario keduanya. Pendengar yang baik adalah orang yang disukai oleh semua orang. Berilah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Dengarkanlah dengan antusias dan jangan menilai atau menasihati kalau tidak diminta.

4.Usahakan untuk menyebut nama dengan benar.
Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut salah atau sembarangan. Nama adalah milik berharga dan sangat pribadi. Kalau ragu tanyakan bagaimana melafalkan nama orang bersangkutan.

5.Bersikaplah Ramah
Keramahan memecahkan kebekuan dan kekakuan suasana, keramahan membuat orang lain dihargai dan diterima. Keramahan membuat orang lain betah bersama anda.

6.Bermurah hatilah.
Anda tidak akan menjadi miskin karena memberi, dan tidak kekurangan karena berbagi. Seorang bijak penah mengatakan ini.. maaf lupa namanya. “Orang bermurah hati berbuat baik untuk dirinya sendiri.” Orang yang bermurah hati lebih mudah diterima dan dihargai dibandingkan orang yang egois, pelit dan hanya ingin diberi.

7.Hindari kebiasaan mengkritik, mencela dan menganggap remeh.
Semua itu menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang lain mempertahankan harga diri dengan sikap yang tidak bersahabat. Umumnya orang tidak suka jika kelemahannya diketahui oleh orang lain.

8.Bersikaplah Asertif
Orang yang disukai bukan hanya orang yang menjawab “ya”. Tetapi orang yang bisa berkata “bukan” bila diperlukan. Bisa saja kan pendapat anda dan pendapat orang lain berseberangan. Jangan takut untuk berbeda pendapat dengan orang lain. Bagaimanapun sikap asertif selalu lebih dihargai daripada sikap “YESMEN”.

9.Berbuatlah apa yang orang lain ingin perbuat kepada anda.
Ini dia. Perlakuan apapun dari orang lain yang dapat menyukai hati itulah yang harus anda lakukan terlebih dahulu. Anda harus mulai melakukan inisiatif. Tidak gampang memulai tapi itulah yang harus kita lakukan agar orang lain melakukannya untuk kita.

10.Cintailah diri sendiri.
Harus. Mencintai diri sendiri berarti menerima diri apa adanya. Menyukai dan melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri, ini berbeda dengan egois yang selalu mementingkan diri sendiri. Atau egosentris yang selalau berpusat pada diri sendiri. Dengan menerima dan menyukai diri sendiri anda akan mudah menyesuaikan diri dengan orang lain.

23 Maret 2009

20 Kiat Membangun Rasa Percaya Diri

1.Ingatlah untuk selalu bersikap wajar. Gak usah over acting atau dibuat-buat.

2.Perhatikan sikap tubuh anda. Hindarkan sikap teresan malas, loyo dan tidak bergairah.


3.Ketika berbicara, perhatikan nada suara anda dan usahakan berbicara dengan pelafalan yang jelas.

4.Biasakan mengucapkan terima kasih dengan mantap dan tulus.


5.Bersikaplah tegas. Jangan mengatakan “ya” pda saat hendak mengatakan “tidak” juga sebaliknya.

6.Lakukan segera apa yang dapat dilakukan segera. Jangan menunda. Menundadapat menghambat perkembangan kepercayan diri.


7.Kenalilah kelebihan, kekurangan diri. Puuklah terus kelebihan dan berusaha memperbaiki kekurangan.

8.Berusahalah untuk selalu tampil rapid an bersih. “you feel great when you look good”.


9.Berusahalah untuk memperluas wawasan dengan banyak membaca atau menambah pengethauan anda.

10.Berusahalah untuk focus pada suatu pekerjaan, jangan setengah-setengah.


11.Jangan ragu untuk meminta bantuan orang ain bila diperlukan dan berjiwa besarlah kalau mengaami penolakan.

12.Hindarkan kebiasaan mengeluh dan menggerutu. Curahkan isi hati hanya kepada orang yang tepat.


13.jangan larut dalam erasaan negative. Frustrasi, sakit hati dan irihati dapat menghambat perkembangan kepercayaan diri.

14.Bila diperlukan bantulah orang menyelesaikan masalahnya tapi bukan untuk ikut campur dalam masalah orang lain.

15.Ketika membicarakan orang lain, bicaralah tentang kebaikan dan sesuatu yang positif tentang orag lain. Pribadi yang percaya diri tidak merasa superior dan yang rendah diri tidak merasa inferior.


16.Beranilah mengakui kesalahan baik kepada diri sendiri mapun keada orang lain. Jangan menutup-nutipinya.

17.Beranilah mencoba hal-hal baru yang selama ini kelihtan menantang dan dihindari.


18.Jangan memberi gelar konyol kepada diri sendiri. Dan jangan mau di beri gelar konyol oleh orang lain.

19.Nikmatilah hidup. Tengkanlah pikiran yang kacau dan lepaskan beban dan raihlan kegembiraan.


20.Bayangkan diri anda adalah seorang yang percaya diri dan bersikaplah sebagai orang yang percaya diri.

09 Februari 2009

Extraordinary Leadership – Habitus Baru Kepemimpinan Korporasi "Kepemimpinan Visioner"

Oleh : Lily Widjaja (*)

Apa itu sukses?
Baru-baru ini aku melempar suatu pertanyaan kepada seorang teman: sukses itu tujuan atau akibat? Secara spontan dia langsung menjawab: tujuan. Tapi ketika aku memandangya dengan penuh pikir, dia juga mulai berpikir, lalu menjawab: mestinya suskes itu akibat.
Dalam berbagai interview, sering aku ditanya definisi sukses. Dalam benak penanya jelas sukses dikaitkan dengan harta dan kuasa. Aku punya pandangan yang sangat berbeda. Pada hematku, sukses adalah ketika aku memberi yang terbaik dari diriku, melaksanakan tugas pekerjaanku dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab. Apapun hasilnya, itulah sukses! Jadi, aku telah sukses sejak aku menjadi murid yang sekolah dengan baik. Seorang ibu rumah tangga atau bapak rumah tangga yang mengurus rumah tangganya dan anak-anaknya dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab, itulah sukses. Tidak ada kaitan dengan posisi, jabatan, harta kekayaan, kekuasaan apapun. Sukses adalah ketika aku memberi yang terbaik dari diriku!

1. Membentuk Visi Pribadi dan Visi Organisasi

A. Visi Pribadi: nilai martabat luhur manusia
Sukses itu bukan tujuan tetapi sebuah akibat. Dalam tataran personal, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: mengapa perlu berubah? Apakah agar kita lebih kaya, lebih berkuasa, lebih bertahta? Sah-sah saja semua keinginan dan cita-cita itu. Namun aku mau menawarkan sebuah jawaban yang menurutku lebih permanent dan transcendent, yakni: kita berubah agar kita sejahtera jiwa raga, hidup bernilai dan bermakna sebagai manusia, selayak-layaknya makhluk yang utuh.

Menurut hemat saya, bisnis itu harus berorientasi nilai dan mengarah kepada perubahan yang transformative, suatu perubahan yang mengungkapkan dan meneguhkan hakikat martabat manusia itu sendiri di tengah-tengah dunianya. Semua kemajuan dan pencapaian yang bisa dibuat manusia di bidang apapun, termasuk dalam dunia bisnis, semuanya itu harus tetap dikritisi dalam terang nilai-nilai. Apa artinya suatu kemajuan kalau manusia direndahkan hanya sebagai hamba kemajuan itu sendiri? Apa artinya pencapaian tertinggi manusia, kalau manusia pada akhirnya dikendalikan dan mendapatkan dirinya sedang masuk dalam pusaran efek boomerang yang destruktif?
Nilai-nilai merupakan fundamen dan pegangan manusia untuk selalu hidup akrab dengan kesejatian dirinya dan hidup harmonis dengan alam sekitarnya (social maupun natural). Nilai-nilai akan menuntun manusia untuk senantiasa menjalani kehidupan, mengisinya dengan segala dinamika yang diperlukan, menuju kehidupan yang lebih baik dan berkualitas, suatu dunia baru yang terbentang luas dan layak untuk dihidupi. Bahasa agamanya: kembali ke hakikat luhur manusia sebagai fitrah Penciptanya, citra dan rupa Allah sendiri!!

(Visi pribadi yang mengasumsikan nilai dan keyakinan di atas, tentu saja sudah dan akan mempengaruhi saya dalam menjalani pekerjaan profesional di sejumlah korporat dan organisasi bisnis lainnya)

B. Visi Organisasi: habitus profit/beyond profit/based on values
Suatu entitas bisnis didirikan sudah pasti dengan tujuan mencari untung, meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Management perusahaan bertugas dan bertanggung jawab untuk membawa perseroan tumbuh dan berkembang sebagai suatu going-concern yang sukses. Ukuran yang mudah adalah nilai buku atau net asset yang meningkat. Dengan kata lain, sudah kodratnya suatu entitas bisnis yang bukan yayasan sosial mencari untung. Tidak ada yang salah dengan itu.
Tapi pertanyaannya adalah: apa visi misi dari suatu bisnis yang sustainable di masa depan? Apakah sekedar mencari untung dengan segala cara kalau perlu yang tidak etis, atau mencari untung secara jujur dan adil? Tentu saja yang seharusnya adalah bisnis mencari untung dengan cara yang benar. Sementara ini, bisnis dan kejujuran dipersepsikan sebagai dua kutub yang berlawanan dan tidak mungkin dipertemukan. Benarkah itu?
Kita bisa mengubah mentalitas dan keyakinan yang cenderung dikotomis tersebut. Saya mengistilahkan habitus profit untuk suatu sikap dan prilaku bisnis yang jujur dan adil. Karena, sesungguhnya bisnis dan kejujuran, profit dan integritas, merupakan realitas yang tidak seharusnya saling dipertentangkan, tetapi bisa dan hendaknya dipersandingkan. Kuncinya adalah mencintai bisnis sebagai lahan pekerjaan yang sah dan perlu, dengan kesadaran bahwa berbisnis punya nilai dan makna sejauh sebagai sarana. Tetapi bukan sembarang sarana, melainkan sarana positif dan sesuai kehendak Allah. Melalui sarana inipun karyawan atau pebisnis adalah subyek yang dipanggil menjadi collaborator atau co-Creator Sang Pencipta.
Mencintai bisnis mengandaikan sikap dan perilaku yang menjunjung tinggi profesionalitas dan integritas moral dari para pelaku bisnis itu sendiri.Apa gunanya mendapat untung kalau harkat martabat manusia diinjak-injak, atau dalam proses mendapat keuntungan itu kita harus mencelakakan sesama?
Jadi, perubahan yang hendak dicapai bukanlah sekedar perubahan yang menghasilkan kemajuan asset material dan citra positif perusahaan. Apa yang dicapai oleh Organisasi atau Perusahan itu sesungguhnya tidak sekedar menyentuh aspek material, yang memang wajar dan perlu. Tapi, dalam perspektif berbisnis dengan basis nilai, pencapaian itu tidak lain merupakan hasil dan peneguhan atas terimplementasikannya nilai-nilai normative dalam proses produksi perusahaan. Dengan demikian perubahan yang dicapai adalah perubahan yang berbasis nilai-nilai.
Hemat saya, korporasi masa depan adalah korporasi yang berbasis nilai, yang menjunjung martabat luhur manusia. Bisnis perusahaan akan bersinergi dengan segala komponen institusi manusia di bumi yang satu dan sama ini: akan semakin mendekatkan nilai-nilai dan praktik menuju suatu perubahan yang transformative, yang menghasilkan dunia yang lebih aman dan sejahtera, lahir dan batin. Perhatikanlah semua konstitusi Negara bangsa, perhatikanlah ajaran-ajaran spiritual semua agama, Anda akan menemukan bahwa semuanya mengasumsikan (dasar, harapan, impian) sejumlah nilai yang universal sifatnya (melampaui batas-batas suku, agama, ras, dan golongan)!!! Karena itu habitus baru dalam segala cara pikir, merasa, dan bertindak di bidang apapun, termasuk bisnis dan kepemimpinan, senantiasa penting dan relevan.

C. Lebih lanjut dengan Bisnis Berbasis Nilai

Business Ethics sangat penting dan mendesak serta tetap relevan kapan dan di manapun. Aku bukan pakar dalam bidang business ethics. Tapi pengalamanku mengatakan bahwa penghayatan akan nilai-nilai yang benar secara otomatis akan membawa kita pada praktik bisnis yang etis.
Pengakuan atas pentingnya nilai-nilai dalam berbisnis sesungguhnya sudah menjadi kesadaran dan praktek global. Bisa dikatakan usaha berbisnis berbasis nilai sungguh mendapatkan dukungan yang kuat dari masyarakat dunia. Contoh yang paling jelas adalah penerapan Good corporate governance oleh lembaga-lembaga formal maupun non-formal yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Pasti sudah pernah mendengar tentang GCG, atau Good Corporate Governance, atau tata kelola perusahaan yang baik. Dalam peraturan BEJ sudah ada ketentuan GCG untuk emiten yang mencatatkan sahamnya. Dalam draft revisi UUPM dimasukkan pula ketentuan GCG. Ada juga organisasi yang membuat benchmark dan positioning dari perusahaan-perusahaan dalam pelaksanaan GCG.
Semua itu bagus-bagus saja. Namun menurut aku, GCG perlu muncul dari internal diri kita, yang kemudian diterjemahkan dalam tindakan. Kalau tidak, pelaksanaan GCG hanya akan berhenti sebatas checklist pemenuhan normative formalitas.


2. Menterjemahkan Visi menjadi Tindakan

Kekuatan seorang pemimpin visioner terpusat pada suatu visi yang melaluinya para pengikut atau anggotanya berdaya dan bersemangat. Visi bukan tercipta dari suatu kekosongan, melainkan berakar pada sesuatu yang mendasar tentang kehidupan manusia, seperti: nilai-nilai, kepercayaan, makna dan impian tentang kodrat manusia, gambaran diri sebagai person dan sebagai professional, dll.
Pada tahap berikutnya sang pemimpin akan mengartikulasikan visi tersebut dengan cara-cara yang mendorong koleha-koleha mengambil bagian dalam visi itu; kemudian mengiluminasi kegiatan-kegiatan mereka yang biasa dengan signifikansi yang dramatical. Tahap iluminasi ini dilakukan dengan cara yang membawa orang pada suatu keyakinan bahwa visi itu layak dan bernilai, bukan dengan cara ‘selling’ layaknya sebuah barang belaka. Berikutnya, pemimpin masuk ke tahap menanamkan visi itu dalam struktur dan proses organisasi. Tujuannya supaya orang mengalami visi itu dalam berbagai pola aktivitas organisasi mereka sendiri. Untuk itu juga pemimpin dan kolega membuat keputusan hari demi hari dalam terang visi itu sendiri. Tujuannya supaya visi sungguh menjadi jantung dari budaya organisasi perusahaan. Dan kalau perlu, semua anggota organisasi punya waktu tertentu untuk merayakan visi itu dalam ritual upacara-upacara, annual reward, pagelaran seni atau bentuk-bentuk lainnya guna mengungkapkan sekaligus meneguhkan nilai, menguatkan dan menyemangati perjalanan mereka.

Pemimpin mengartikulasikan visi dalam pelbagai bentuk melalui rapat pertemuan, group assemblies, interaksi umum lainnya, dst. sehingga seluruh komunitas menjadi bagian dari visi itu. “Unless the vision becomes a communal vision, then the leader cannot in fact lead”. Until the vision permeates the policies, practices, relationships and programs operative in the organization nothing radically happens. When it does, “new traditions arise, new values become highlighted, a fabric of meaning that binds the community organically together begins to emerge”.


3. Pemimpin visioner yang bijaksana: kesimpulan


• the leader must be automatically human, knowing the essence of what it means to be human and giving living expression to that humanness.
• The leader must also be a real visionary whose vision is impregnated with a comprehensive knowledge ‘of the history, culture and issues facing the organization. The leader’s goal is to be an institution builder, one who calls for the inner strengths, values, feelings of others in identifying and finding meaning and significance for what they do together.
• the leader must have a thorough knowledge of the formal and informal structures and processes of the organization.
• A visionary leader should also learn from the other styles of leader in order to complement his style of leadership. With regard to this, Bishop John Heaps from the Australian Bishops Conference says: “Leadership contains the ability to inspire others, to fill them with enthusiasm and to give them an personal example to want to use their gifts with others for the good of all….True leadership has a quality of openness and quality of being able to create a climate of unity among people with diverse ideas, so that all will be heard. The true leader has the courage to take the decisions that have been made with reasonable consultation”.

4. Pater Jules Chevalier: vision-inspiration-embodiment-mission

I was so touched by the life an work of Jules Chevalier. I think he is a great example of a true visionary leader. I may share some of my reflections on Father Chevalier as a visionary leader. People may say that he a visionary leader for what he has done by founding congregations like the MSC and DOLSH (Daughter of Our Lady of the Sacred Heart). But for me Father Chevalier is more than a founder.
He is a visionary leader, whose vision becomes a congregational vision.
First: He had a very clear vision of God's Love for human beings regardless races, religions, color etc. This is a universal vision. That's why it's so popular in his time ... and I suppose it can be popular in nowadays if we want to promote it.... "Do you think so????" It depends on our scale of values, belief and commitment to do so ...
Second: In order to develop this vision to become other people's vision, he embodied this vision in a very practical way which he called: Devotion to the Sacred Heart. A devotion is now called "a way of the heart" - "spirituality of the Heart" - which focuses on the LOVE as a basic of human need. And I think many people were so convinced by this "embodied vision". But I hope that we do not forget that before embodying this vision, his vision became an inspiration for "the way of the heart" he had chosen. The vision became a driving force. Third: He needed people who have believed in this vision in their turn to spread this vision. That what we call "mission". The foundation of the MSC and DOLSH were meant to spread this vision through their ministries.These are very valuable heritage that we have inherited from Father Chevalier. So I agree with you that FATHER CHEVALIER IS REALLY A VISIONARY LEADER.
There were FOUR elements we could see from his life:
VISION - INSPIRATION - EMBODIMENT – MISSION.
If you have vision but the vision cannot become an inspiration....and then... you cannot become a visionary leader. And if you have vision and inspiration but if you cannot convince people by embodying your vision in a way of life...then...you cannot claim yourself as a visionary leader. Only when you get the vision to inspire people, embodying it in a concrete way of life, and you are able to convince other people by commitment of being faithful to your mission....and you can claim yourself or someone as a visionary leader.


* Sekarang menjabat sebagai Bendahara I Dewan Paroki St. Kristoforus Grogol, Jakarta. Sehari-hari sebagai praktisi pasar modal, menjabat sebagai Presiden Direktur PT Merrill Lynch Indonesia, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia, dan baru saja menyelesaikan dua periode sebagai Komisaris Bursa Efek Jakarta (sampai pada peralihannya menjadi Bursa Efek Indonesia).

21 November 2008

Resep Persahabatan Sejati



dalam hidup kita tentu pingin menikmati hidup dengan rasa persaudaraan yang sedap dan bersahabat. tentu ini tidak lepas karena kita sendri sebagai makhluk sosial...
nah... berikut saya postingkan resep persahabatan sejati...

yang pasti rasanya sedap...

Bahan: 3 kg pengorbanan, 2 genggam kesetiaan, 1 sendok kesabaran, sedikit percaya diri, satu mangkuk keterbukaan, beberapa buah kegetiran ditanmah sekuncup doa.

cara membuatnya: 3 kg pengorbanan yang sudah dicuci bersih dengan air ketulusan direbus hingga empuk, sesudah itu diangkat dan diiris tipis-tipis. kemudian dua genggam kesetiaan, satu sendok kesabaran,sedikit percaya diri ditumbuk halus dengan beberapa buah kegetiran yang sudah dikupas kulit kesombongannya. ditumuis dengan minyak persahabatan. selanjutnya tuangkan air keihklasan secukupnya. sayatan buah pengorbanan dimasukan dengan bumbu-bumbu yang sudah digoreng dalam wajan-wajan pergaulan. hidupkan api cinta kasih sebesar mungkin agar lekas mendidih.

Cara menghidangkan: irislah sekuncup doa agak tipis, sayatlah beberapa buah kegetiran dan taburkan diatas masakan. agar lebih gurih dan nikmat, taburkan kuntum-kuntum senyum yang sudah mekar, laluhidangkan dengan hati terbuka....

selamat menikmati.....

31 Oktober 2008

Since we all need forgiveness, we should always be forgiving

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.
Ditengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya.
Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis diatas pasir :
“HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU”
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi.
Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis disebuah batu :
“HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU”
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya : “kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya diatas pasir, dan sekarang kamu menulis diatas batu ?”
Temannya sambil tersenyum menjawab :
“ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya diatas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”
Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Belajarlah menulis diatas pasir.
Since we all need forgiveness, we should always be forgiving.
***
Sudahkah anda memaafkan kerabat dekat anda yang pernah menyakiti anda ?

24 Oktober 2008

Hidup Itu Sederhana

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam

tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.
* Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.
* Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik." Ibu menjawab: "Mengapa?"
Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."

* Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur." Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."
* Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah." Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."
Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi." Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana."

*Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala
sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

Kotak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah." Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.

* Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?" Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit."
* Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah
dan memiliki secukupnya saja.