Mutiara Kata Hari Ini

Hari yang paling disia-siakan adalah hari saat kita tidak tertawaSebastian Roch Nicolas Chamfort.

20 April 2009

Hari Penghakiman (UNAS) Telah Tiba

Hari ini serentak di seluruh Indonesia diadakan Ujian Nasional untuk SMA dan SMK. Penantian, usaha dan biaya selama tiga tahun ditentukan selama lima hari kedepan. Mampu tidak adek-adek saya yang kelas XII ini mengatasi ujian terberat ini? Kita lihat saja awal Juli nanti saat pengumuman kelulusan diberitakan.

Hampir tidak ada perubahan dengan UNAS tahun 2007-2008 yang ada hanya criteria kelulusan yang dinaikan menjadi criteria kelulusan menjadi (1) memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan tidak ada nilai di bawah 4,25, dan khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran Kompetensi Keahlian Kejuruan Minimum 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN; atau (2) memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran, dan nilai mata pelajaran lainnya minimal 6,00, dan khusus untuk SMK, nilai mata pelajaran Kompetensi Keahlian Kejuruan Minimum 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN; (3) Pemerintah daerah dan/atau satuan pendidikan dapat menetapkan batas kelulusan di atas nilai sebagaimana pada ayat (1). Tentu berat bagi siswa. Tetapi apapun adik-adik hanyalah pelaksana yang mau tidak mau harus ikut. (nasib… makanya jangan sekolah) loh kog jadi profokator…? Ampun pak menteri…..!!!

Setiap perubahan, apa pun wujud dan bentuknya, pasti akan menimbulkan reaksi. UN pun dari tahun ke tahun tak luput dari kondisi semacam itu. Banyak kalangan yang tidak setuju jika UN digelar. Apalagi, sekarang sudah diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di mana sekolah memiliki hak otonom untuk mengelola sekolahnya sendiri, termasuk dalam menggelar kegiatan penilaian (evaluasi). Namun, agaknya pemerintah –melalui Badan StandarNasional Pendidikan (BSNP)– memiliki kebijakan lain. UN pun jalan terus, meski setiap tahun harus “panen” demo. Ya begitulah kebijakan itu dibuat dari atas tanpa melihat di lapangan dan lakon yang mengalami langsung. Wong menterinya saja asal comot dan bukan berasal dari lingkungan guru atau mereka yang benar-benar mengalami susahnya mendidik siswa. Saya yang nulis juga sebenarnya juga tidak mengalami lansung, tetapi perjumpaan saya dengan para guru dan siswa setiap hari, ya ikutan gregetean dengan kebijakan yang sentralistik. Katanya otonom…. Apanya ya?

Bagi pendukung kebijakan pemerintah, UN dinilai cukup strategis dan relevan sebagai starting point untuk mendongkrak mutu pendidikan yang dianggap sudah berada di ambang batas kecemasan. Ketertinggalan SDM kita di bidang sains dan teknologi harus dikejar melalui peningkatan mutu keluaran sekolah agar kelak mereka tidak mengalami “gagap budaya” ketika menghadapi berbagai perubahan di tengah-tengah peradaban global. Padahal ini yang memprihatinkan… banyak siswa yang sudah mendapatkan bocoran soal dan jawabannya. Pertanyaannya mutu yang macam apa yang dikejar oleh Badan StandarNasional Pendidikan (BSNP)? Apakah ini murni hasil kerja keras siswa? Tidak juga….

Dilain sisi Bagi sekolah-sekolah maju, terutama di kota-kota besar, keputusan tersebut mungkin tidak memberikan dampak kejutan apa-apa. Kelengkapan dukungan sarana/prasarana/fasilitas sekolah dan keakraban mereka terhadap dunia mulitimedia bisa menjadi jawaban terhadap tuntutan kelulusan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Namun, bagi sekolah-sekolah pinggiran di pelosok-pelosok desa yang secara geografis jauh dari sentuhan kemajuan peradaban modern, sebut saja desa saya di Wangka- Kecamatan Riung, yang jauh terpencil, jangankan untuk Ujian Nasional pelajaran harian saja hanya berbekal 1 buku paket. (kebetulan bulan Januari kemarin saya sempatkan diri pulang dan melihat langsung almamater saya, SMAK Kejora Riung) -Bagaimana bisa disamaratakan dengan sekolah dikota. Sekolah dipedalaman seperti ini berhadapan dengan kriteria kelulusan yang terus meningkat dari tahun ke tahun bisa jadi akan menjadi beban tersendiri. Selain minimnya dukungan sarana, prasarana, dan fasilitas, sekolah-sekolah pinggiran pada umumnya menghadapi masalah rendahnya tingkat kecerdasan input, sikap permisif, dan masa bodoh orang tua terhadap pendidikan atau minimnya tenaga pengajar yang andal dan profesional. Ini artinya, sekolah-sekolah pinggiran akan menghadapi masalah baru akibat banyaknya siswa yang diperkirakan tidak bisa lulus. Dan kenyataan seperti itu. Saya mendengar malahan banyak sekolah di pedalaman yang tidak dapat meluluskan siswanya, kasihan ya gurunya… mereka pasti sangat terpukul dengan kejadian seperti ini. Atau malah stress dan tidak mau jadi guru lagi… semoga tidak sampai seperti ini.

Ada lagi yang lebih memprihatinkan, ternyata UN dinilai kurang sahih; tidak mampu memotret kompetensi siswa yang sesungguhnya. Masih ingat, siswa “berprestasi cemerlang” yang akhirnya gagal menempuh UN? Ya, secara psikologis anak bernasib “malang” ini jelas akan dihinggapi sikap inferior dan rendah diri secara berlebihan akibat stigma “bebal dan bodoh” yang diberikan oleh orang-orang di sekitarnya. Dampak psikologis semacam ini, disadari atau tidak, memiliki daya “pembunuh” yang luar biasa terhadap motivasi anak dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik. Mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang terbelah (split personality), menjadi anak-anak yang terampas masa depannya akibat vonis “bebal dan bodoh” yang mereka terima. Duh… Gusti…

Lalu bagaimana? Dengan kesiapan mereka menempuh ujian ini? Kemarin saya bertemu dengan beberapa Siswa yang kebetulan saya kenal baik mereka akan menghadapi UNAS hari ini. Ditanya bagaimana kesiapan mereka, Sepakat mereka menjawab. “Harus Siap!” ya… tidak ada jawaban lain adik-adik memang harus siap. Apapun yang terjadi Hadapailah nasibmu….!!!! Selamat berjuang adik-adiku… saya pasti mendoakan yang terbaik yang anda dapatkan. Tuhan Bersamamu!

12 komentar:

  1. salam kenal,..dari ujung Borneo..follow n link ya..

    BalasHapus
  2. Kata2 penghakimannya serem amat, kaya mo dipenjara :D Tapi emang bener, ksihan ade2 siswa sekarang, harus bisa masuk standar nilai rata2 yang cukup tinggi. Moga mereka suxez deh...

    BalasHapus
  3. @ Ok bertz udah saya follow n link juga

    @seno: Iya kita doakan semoga mereka berhasil..

    BalasHapus
  4. tampaknya banyak yg ngga lulus deh, dgn standar 5,5 itu ssangat sulit dicapai.

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  6. sob dapat award nih ....diambil ya!!!

    BalasHapus
  7. wah blog anda sangat menggugah visitor sukses selalu

    BalasHapus
  8. Good work please keep up ?

    BalasHapus
  9. @ Panca: kita doakan agar mereka berhasil... kasihan usaha mereka selama ini.

    @ Koesnadi: maaf komentnya saya hapus... mending promosi di shoutbox aja...

    @Firman : Thanks untuk awardnya.

    @sapatakutbisnis: saya hanya menulis saja selagi bisa sekalian belajar.

    @ Heryrhey: Thanks bro...

    BalasHapus
  10. artikel yang berguna nih, mampir di blog ku ya di http://blogfetra.blogspot.com sapa tahu bisa nemuin sesuatu.....keep on blogging!

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar anda disini.
Komentar yang tidak sesuai dengan isi topik pembicaraan dan yang berbau sara serta menyerang pihak lain akan dihapus. Saya akan mengunjungi anda kembali.... Terima kasih.